Ajang tahunan Game Developers Conference (GDC) akan kembali digelar bulan depan di San Francisco, dan Microsoft memastikan kehadirannya dengan sejumlah sesi diskusi penting. Salah satu panel yang paling menarik perhatian akan menghadirkan sosok kunci di balik pengembangan generasi terbaru Xbox, Jason Ronald.
Sesi bertajuk Building for the Future with Xbox dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 11 Maret. Dalam panel ini, Ronald akan membagikan pandangan Microsoft mengenai arah pengembangan platform Xbox, baik untuk kondisi saat ini maupun visi jangka panjang ke depan.
Menurut deskripsi resmi acara, Xbox disebut memiliki rekam jejak panjang dalam menghadirkan inovasi di industri game. Mulai dari kehadiran konsol Xbox itu sendiri, layanan online Xbox Live, model berlangganan Xbox Game Pass, hingga solusi bermain lintas perangkat lewat Xbox Cloud Gaming. Terbaru, kolaborasi perangkat handheld seperti ROG Ally juga menjadi bagian dari evolusi ekosistem Xbox.
Microsoft menegaskan bahwa setiap inovasi tersebut merupakan langkah lanjutan dari komitmen Xbox untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan pemain. Fokus ke depan tidak hanya soal perangkat keras, tetapi juga bagaimana kreator game dapat menjangkau lebih banyak pemain tanpa batasan perangkat.
Xbox menyatakan bahwa mereka ingin menghadirkan pengalaman bermain yang lebih fleksibel dan terhubung, sekaligus memberikan kebebasan lebih besar bagi para pengembang dalam menciptakan dan mendistribusikan game mereka di berbagai platform.
Istilah “masa depan yang fleksibel dan saling terhubung” diyakini merujuk pada ambisi Microsoft untuk mulai meninggalkan konsep eksklusivitas ketat. Perusahaan tersebut tampak semakin terbuka dalam merilis game-game Xbox ke perangkat yang selama ini dianggap sebagai kompetitor langsung.
Presiden Xbox, Sarah Bond, bahkan secara terbuka menyebut bahwa ide game eksklusif sudah tidak lagi relevan di era gaming modern. Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa Microsoft ke depannya akan menghadirkan judul-judul besarnya ke berbagai platform, termasuk konsol rival.
Strategi ini jelas menandai perubahan besar dari tradisi industri yang telah berlangsung puluhan tahun. Meski menuai pro dan kontra, langkah tersebut tampaknya mulai menunjukkan hasil dari sisi bisnis. Salah satu contohnya adalah Forza Horizon 5 versi PlayStation 5, yang dilaporkan mampu menghasilkan pendapatan lebih dari 300 juta dolar AS hanya dari satu platform tersebut.
Tak hanya itu, beberapa game besar Microsoft yang dijadwalkan rilis tahun ini juga disebut akan hadir di PS5. Judul-judul seperti Forza Horizon 6, Halo: Campaign Evolved, hingga versi reboot dari Fable dikabarkan tidak lagi terbatas pada ekosistem Xbox saja.
Sementara itu, terkait generasi konsol berikutnya, Microsoft telah mengonfirmasi kerja sama lanjutan dengan AMD untuk pengembangan Xbox terbaru. CEO AMD, Lisa Su, sempat memberi sinyal bahwa konsol ini berpotensi meluncur pada tahun 2027, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Microsoft.
Di sisi lain, perjalanan Xbox dalam beberapa waktu terakhir terbilang tidak mudah. Laporan keuangan terbaru Microsoft menunjukkan bahwa divisi gaming Xbox mengalami performa yang tertinggal jauh dibandingkan unit bisnis lainnya. Penjualan perangkat keras menjadi titik terlemah, dengan tren penurunan pendapatan yang telah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut, termasuk penurunan hingga 32% pada periode terbaru.
Selain membahas arah platform ke depan, Microsoft juga memanfaatkan ajang Game Developers Conference untuk menegaskan ambisinya di bidang kecerdasan buatan. Fokus utama kali ini tertuju pada penerapan AI di dalam ekosistem Xbox.
Salah satu sesi yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 12 Maret, berjudul Gaming AI at Xbox: Responsible Innovation for Player Experiences. Panel ini akan menghadirkan para eksekutif AI Xbox, yaitu Fatima Kardar, Haiyan Zhang, dan Sonali Yadav. Mereka akan mengulas sejauh mana implementasi AI dalam pengembangan game Xbox telah berjalan, termasuk keberhasilan yang diraih maupun tantangan yang masih dihadapi.
Diskusi ini akan membahas bagaimana AI berpotensi mengubah cara pengembang merancang pengalaman bermain di masa depan. Selain itu, panelis juga akan menyoroti peran AI dalam membantu menyelesaikan tantangan desain game, tanpa mengorbankan kualitas pengalaman pemain. Topik lain yang tak kalah penting adalah bagaimana pengembang dapat ikut terlibat dalam membentuk masa depan AI di industri game dengan pendekatan yang bertanggung jawab.
Namun, penggunaan AI di dunia teknologi bukan tanpa kontroversi. Di Microsoft maupun perusahaan teknologi besar lainnya, penerapan AI masih menjadi perdebatan, terutama terkait etika, dampak terhadap tenaga kerja kreatif, dan batasan penggunaannya dalam proses produksi game.
Tak hanya soal AI, Xbox juga akan menggelar panel lain yang menyoroti strategi bisnis dan keterlibatan pemain. Sesi bertajuk Leveling Up Player Engagement and Monetization with Xbox Play Anywhere akan menghadirkan para pengembang Xbox yang membahas bagaimana perusahaan memanfaatkan sistem monetisasi internal mereka, termasuk mesin monetisasi bernama AR7.1.
Melalui teknologi tersebut, Xbox mengklaim dapat membantu penerbit game menjangkau pemain secara lebih efektif, meningkatkan aktivitas pengguna, serta mendorong pertumbuhan pendapatan lewat pendekatan lintas platform yang terintegrasi.

