Game AAA dikenal sebagai proyek dengan biaya pengembangan yang sangat besar, bahkan sering dianggap “menghamburkan” dana dalam jumlah fantastis. Anggaran masif tersebut umumnya dialokasikan untuk menghadirkan kualitas terbaik, mulai dari visual hingga pengalaman bermain. Lantas, sebenarnya berapa rata-rata biaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan game AAA saat ini?
Dalam beberapa tahun terakhir, game AAA semakin menunjukkan ambisi besar dalam skala pengembangannya. Menurut laporan Jason Schreier dari Bloomberg, rata-rata proyek game AAA kini bisa menghabiskan biaya lebih dari 300 juta dolar AS untuk satu judul saja.
Ia juga menyoroti bahwa angka fantastis ini umumnya terjadi pada studio yang berbasis di Amerika Serikat dan Kanada. Sementara itu, di wilayah lain dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah, total anggaran pengembangan masih bisa ditekan agar tidak sebesar itu.
Lebih lanjut, Schreier menjelaskan bahwa sebagian besar dana tersebut justru dialokasikan untuk membayar gaji para developer serta menutupi berbagai biaya tak terduga selama proses produksi. Artinya, anggaran besar ini tidak sepenuhnya mengalir ke jajaran eksekutif. Para petinggi perusahaan umumnya memperoleh keuntungan dari kepemilikan saham, bukan dari gaji utama mereka.
Klaim soal budget yang menembus angka 300 juta dolar sebenarnya bukan hal yang berlebihan jika melihat kondisi industri saat ini. Sebagai contoh, game Marvel’s Spider-Man 2 dilaporkan menghabiskan biaya hingga sekitar 315 juta dolar AS saat dikembangkan pada 2023.
Tak hanya itu, beberapa seri dari Call of Duty bahkan disebut-sebut telah melampaui angka 400 juta dolar jika seluruh konten tambahan seperti DLC turut diperhitungkan. Lonjakan biaya ini menunjukkan betapa mahalnya proses produksi game modern dengan standar AAA.
Akibatnya, banyak perusahaan game mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran tanpa harus mengorbankan kualitas. Salah satu pendekatan yang mulai dilirik adalah pemanfaatan teknologi AI untuk membantu efisiensi dalam proses pengembangan.
Menurutku, penggunaan AI memang bisa jadi solusi untuk efisiensi—terutama untuk tugas repetitif seperti asset generation atau testing. Tapi kalau terlalu bergantung, ada risiko kualitas kreatif dan “sentuhan manusia” jadi berkurang. Jadi, idealnya AI dipakai sebagai alat bantu, bukan pengganti utama developer.

