![]() |
| (Google Gemini Source) |
Google dikabarkan mulai menghadirkan agen kecerdasan buatan Gemini untuk digunakan oleh lebih dari tiga juta personel sipil maupun militer di lingkungan Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg.
Pada tahap awal, sistem AI tersebut akan dijalankan di jaringan internal yang tidak memuat informasi rahasia. Meski begitu, diskusi mengenai kemungkinan memperluas penggunaannya ke jaringan dengan tingkat keamanan lebih tinggi, termasuk jaringan rahasia dan sangat rahasia, disebut masih terus berlangsung.
Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Penelitian dan Rekayasa, Emil Michael, menjelaskan bahwa saat ini telah tersedia delapan agen AI yang dirancang untuk membantu berbagai tugas administratif. Beberapa di antaranya mencakup merangkum catatan rapat, membantu penyusunan anggaran, hingga meninjau proposal tindakan agar tetap sejalan dengan strategi pertahanan nasional.
Sementara itu, Wakil Presiden Google, Jim Kelly, menyebut bahwa para pegawai di Departemen Pertahanan juga memiliki kesempatan untuk membuat agen AI mereka sendiri dengan menggunakan perintah berbasis bahasa alami. Fitur tersebut memungkinkan tiap unit mengembangkan alat yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional masing-masing.
Laporan mengenai pengembangan ini turut disorot oleh media teknologi Engadget pada Rabu (11/3/2026).
Sejak Desember 2025, chatbot AI milik Google yang diakses melalui portal GenAI.mil telah dimanfaatkan oleh sekitar 1,2 juta pegawai di lingkungan Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon untuk mendukung berbagai pekerjaan non-rahasia.
Penggunaannya terbilang cukup masif. Hingga saat ini, para pegawai dilaporkan telah membuat sekitar 40 juta prompt berbeda saat berinteraksi dengan sistem AI tersebut. Selain itu, lebih dari 4 juta dokumen juga telah diunggah ke dalam platform untuk diproses atau dianalisis oleh teknologi tersebut.
Meski tingkat pemanfaatannya terus meningkat, program pelatihan terkait teknologi ini masih belum sepenuhnya mengejar laju adopsinya. Hingga saat ini, tercatat baru sekitar 26 ribu pegawai yang telah menyelesaikan pelatihan resmi untuk menggunakan sistem AI tersebut.
Walaupun jumlahnya masih relatif kecil dibandingkan total pengguna, minat terhadap teknologi ini terlihat terus bertambah. Hal itu tercermin dari sesi pelatihan lanjutan yang sudah terisi penuh oleh pegawai yang ingin mempelajari penggunaan AI secara lebih mendalam.
Perluasan penggunaan AI ini juga berlangsung di tengah upaya Pentagon untuk memperluas kerja sama dengan berbagai perusahaan pengembang kecerdasan buatan. Situasi tersebut muncul setelah Anthropic menolak penggunaan chatbot mereka, Claude, untuk keperluan pengawasan massal terhadap warga Amerika Serikat maupun untuk integrasi dalam sistem senjata otonom.
Menanggapi penolakan tersebut, Pentagon kemudian mengkategorikan perusahaan AI itu sebagai potensi risiko dalam rantai pasokan keamanan nasional, sebuah langkah yang menandai meningkatnya sensitivitas pemerintah AS terhadap teknologi kecerdasan buatan dalam sektor pertahanan.
Di tengah perkembangan kerja sama teknologi AI dengan sektor pertahanan, muncul pula tekanan dari dalam perusahaan teknologi itu sendiri. Sekitar 900 pegawai dari Google bersama lebih dari 100 karyawan OpenAI dilaporkan menandatangani surat terbuka yang meminta perusahaan mereka tetap memegang teguh prinsip etika dalam pengembangan dan penggunaan kecerdasan buatan.
Laporan juga menyebutkan bahwa Google secara internal telah melakukan penyesuaian terhadap pedoman penggunaan AI miliknya pada awal Februari lalu, khususnya terkait batasan penerapan teknologi tersebut dalam sektor tertentu.
Sementara itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat diketahui telah menjalin kerja sama dengan OpenAI serta xAI untuk penggunaan teknologi AI pada jaringan dengan akses terbatas.
Kontroversi mengenai kolaborasi antara perusahaan teknologi dan militer sebenarnya bukan hal baru bagi Google. Pada tahun 2018, ribuan karyawan perusahaan tersebut sempat melakukan protes terhadap keterlibatan Google dalam Project Maven, sebuah proyek militer yang memanfaatkan AI untuk menganalisis rekaman video dari drone militer.
Sebelumnya, chatbot populer ChatGPT sempat menghadapi gelombang penolakan dari sebagian pengguna setelah muncul laporan mengenai kerja sama antara OpenAI dan militer Amerika Serikat. Gerakan yang dikenal sebagai QuitGPT itu mengajak masyarakat untuk berhenti menggunakan layanan AI tersebut sebagai bentuk protes.
Kampanye boikot ini muncul setelah CEO OpenAI, Sam Altman, mengumumkan adanya kesepakatan dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon. Kesepakatan tersebut disebut memungkinkan model AI milik OpenAI digunakan dalam jaringan militer rahasia milik pemerintah Amerika Serikat.
Gerakan QuitGPT kemudian menyebar luas di internet. Lebih dari 1,5 juta orang dilaporkan ikut terlibat dalam aksi tersebut, baik dengan menghentikan langganan ChatGPT, menyebarkan kampanye di media sosial, maupun menyatakan dukungan melalui situs resmi gerakan tersebut.
Lalu apa sebenarnya yang memicu munculnya gerakan boikot tersebut? Kontroversi ini bermula dari ketegangan antara perusahaan AI Anthropic dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Pada 27 Februari 2026, CEO Anthropic, Dario Amodei, menyatakan bahwa perusahaannya tidak dapat menyetujui permintaan Pentagon yang menginginkan akses tanpa batas terhadap sistem kecerdasan buatan milik mereka. Pernyataan tersebut memicu perdebatan luas mengenai batasan etika dalam penggunaan teknologi AI oleh institusi militer.
Amodei menilai bahwa dalam kondisi tertentu, teknologi kecerdasan buatan justru berpotensi melemahkan nilai-nilai demokrasi apabila digunakan secara tidak tepat. Ia juga menegaskan bahwa beberapa skenario penggunaan yang diminta masih berada di luar kemampuan teknologi AI saat ini untuk dijalankan secara aman dan dapat diandalkan. Pernyataan tersebut turut dilaporkan oleh media internasional Euronews pada Kamis (5/3/2026).
Anthropic sendiri merupakan pengembang chatbot AI Claude. Berbeda dengan sejumlah perusahaan AI besar lainnya, perusahaan ini disebut menjadi satu-satunya yang belum menyediakan teknologinya untuk digunakan dalam jaringan internal militer Amerika Serikat yang baru dikembangkan.
Menurut sejumlah laporan, Anthropic juga menghadapi tekanan dari Pentagon untuk segera menentukan kebijakan etika terkait penggunaan sistem AI miliknya. Jika tidak memenuhi persyaratan tersebut, perusahaan berisiko kehilangan kontrak senilai sekitar 200 juta dolar AS yang sebelumnya diberikan pada Juli lalu untuk mengembangkan prototipe teknologi AI canggih yang dirancang mendukung kebutuhan keamanan nasional Amerika Serikat.
Tidak lama setelah negosiasi antara Anthropic dan pemerintah Amerika Serikat menemui jalan buntu, CEO OpenAI, Sam Altman, mengumumkan bahwa perusahaannya telah mencapai kesepakatan tersendiri dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Melalui unggahan di platform X pada 28 Februari, Altman menyampaikan bahwa model AI milik OpenAI akan mulai diterapkan dalam jaringan militer rahasia Amerika Serikat. Ia juga menambahkan bahwa dalam proses diskusi dengan pihak Departemen Pertahanan, militer AS dinilai menunjukkan komitmen terhadap aspek keamanan serta keinginan untuk bekerja sama demi menghasilkan penerapan teknologi yang bertanggung jawab.
Pengumuman tersebut muncul tidak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan rencananya untuk mengarahkan lembaga-lembaga federal agar menghentikan penggunaan teknologi dari Anthropic.
Di tengah perkembangan itu, kampanye boikot QuitGPT menuding bahwa OpenAI lebih memprioritaskan kepentingan bisnis dibandingkan aspek keselamatan publik. Gerakan tersebut juga menilai banyak pengguna yang keliru menganggap ChatGPT sebagai satu-satunya asisten AI yang tersedia saat ini.
Melalui kampanye mereka, QuitGPT mendorong masyarakat untuk mencoba berbagai alternatif lain yang dianggap lebih mengutamakan privasi atau bersifat sumber terbuka. Beberapa layanan yang disebut antara lain Confer, Alpine, dan Lumo, serta pesaing besar seperti Google Gemini dari Google dan Claude dari Anthropic. Namun demikian, kampanye tersebut secara khusus tidak merekomendasikan penggunaan Grok yang dikembangkan oleh perusahaan AI milik Elon Musk.
“Banyak orang mengira ChatGPT adalah satu-satunya chatbot yang tersedia. Sudah saatnya anggapan itu diubah,” demikian pernyataan yang disampaikan oleh pihak QuitGPT dalam kampanyenya.

