Mendapatkan informasi pribadi seseorang di internet kini bukan lagi hal yang sulit. Apalagi jika data tersebut dibagikan langsung oleh pemiliknya sendiri. Inilah yang terjadi pada sejumlah personel militer Inggris, yang secara sadar membagikan aktivitas mereka melalui aplikasi olahraga Strava.
Menurut laporan The i Paper, lebih dari 500 personel militer Inggris diketahui membagikan lokasi mereka melalui aplikasi olahraga populer Strava. Aktivitas lari yang dipublikasikan secara terbuka memperlihatkan rute di sejumlah area sensitif, termasuk Northwood, Faslane, dan North Yorkshire.
Menariknya, tindakan ini bukanlah kelalaian semata. Para tentara sadar bahwa unggahan mereka dapat diakses publik. Bahkan, salah satu jalur lari diberi label “Security Breach” atau celah keamanan, seolah menegaskan risiko yang ditimbulkan.
Seorang pejabat senior di salah satu pangkalan militer menekankan bahwa kebiasaan ini berpotensi menimbulkan ancaman serius. Informasi yang terbuka bisa dimanfaatkan untuk pemerasan, tekanan psikologis, hingga strategi lawan. Dengan kata lain, data yang terlihat sepele di aplikasi fitness dapat menjadi senjata berbahaya bagi pihak musuh.
Hanya bulan lalu, seorang pria keturunan Iran bersama seorang wanita asal Rumania berhasil menyusup ke pangkalan angkatan laut Faslane. Insiden ini menambah daftar panjang kasus serupa, termasuk pada Januari lalu ketika staf British NATO mengungkap adanya upaya pengintaian yang dilakukan oleh agen Rusia.
Lebih mengkhawatirkan lagi, informasi strategis seperti keberadaan kapal selam nuklir maupun posisi kapal perusak ternyata dapat diidentifikasi melalui aplikasi Strava. Fakta ini menjadi pengingat keras bahwa data sensitif, baik milik negara maupun pribadi, bisa dengan mudah terekspos ke publik. Jika jatuh ke tangan yang salah, informasi yang tampak sepele dapat berubah menjadi boomerang yang merugikan.

