Iklan - SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISING

Bukan Sekadar Main Bareng, Mixtape Ingin Jadi Ruang Nongkrong Virtual Paling Seru

Bukan Sekadar Main Bareng, Mixtape Ingin Jadi Ruang Nongkrong Virtual Paling Seru

Sebagian besar game petualangan biasanya membawa pemain mengejar misteri besar atau memburu peninggalan bersejarah yang tersembunyi di masa lalu. Namun Mixtape mengambil arah yang jauh lebih personal. 

Game terbaru yang diterbitkan oleh Annapurna Interactive ini justru berfokus pada momen sederhana namun emosional: sekelompok sahabat yang menghabiskan hari-hari terakhir mereka bersama sebelum akhirnya berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing.

Alih-alih menawarkan konflik epik, Mixtape menonjolkan pengalaman kebersamaan yang terasa intim. Musik menjadi elemen penting yang menyatukan para karakter, menghadirkan suasana hangat sekaligus liar khas masa remaja. 

Game ini ingin menunjukkan bahwa keseruan tidak selalu datang dari petualangan besar, tetapi juga dari kenakalan kecil dan waktu yang dihabiskan tanpa rencana jelas bersama teman-teman terdekat.

Dikembangkan oleh studio asal Australia, Beethoven & Dinosaur, yang sebelumnya dikenal lewat The Artful Escape, Mixtape terasa seperti bentuk penghormatan terhadap budaya remaja era 90-an. Nuansa suburbia dengan semangat pemberontakan anak muda menjadi fondasi kuat yang membentuk identitas game ini.

Dalam sebuah wawancara terbaru, sutradara game Johnny Galvatron mengungkap bahwa berbagai film era 80-an dan 90-an turut memengaruhi visinya. Ia juga menyoroti tantangan terbesar dalam pengembangannya: bagaimana membuat aktivitas “sekadar nongkrong” terasa menarik dalam format video game. 

Menurutnya, masa remaja identik dengan banyak waktu yang dihabiskan untuk berkumpul tanpa tujuan pasti, dan terkadang itu memang terasa membosankan. Justru sisi inilah yang ingin mereka tampilkan secara jujur dalam Mixtape—menjadikan momen diam dan kebersamaan sebagai inti pengalaman bermain.

Menghidupkan Nuansa Film Nongkrong ke Dalam Game

Menghidupkan Nuansa Film Nongkrong ke Dalam Game

Galvatron menjelaskan bahwa menjaga keseimbangan antara atmosfer santai ala film remaja dan ritme permainan yang tetap seru bukanlah hal mudah. Ia terinspirasi dari film-film bertema “hangout” seperti Wayne's World dan Dazed and Confused karya Richard Linklater. Film-film tersebut lebih menekankan interaksi karakter dan momen kebersamaan ketimbang alur cerita besar yang penuh ketegangan.

Menurutnya, menerjemahkan gaya penceritaan seperti itu ke dalam video game membutuhkan pendekatan berbeda. Ritme harus tetap terjaga agar pemain tidak merasa jenuh, namun suasana santainya juga tidak boleh hilang. Di situlah tantangan terbesarnya: membuat pengalaman yang terasa seperti film nongkrong klasik, tetapi tetap memiliki daya tarik interaktif khas game.

Mixtape sendiri berlatar era 1990-an dan mengikuti kisah Rockford bersama dua sahabatnya, Slater dan Cassandra, yang bersiap menghadapi perpisahan sebelum memasuki fase dewasa. Rockford mengambil keputusan berani untuk pergi ke New York demi mengejar impian bertemu idola musiknya, sementara mereka bertiga mengenang berbagai momen tak terlupakan. 

Mulai dari perjalanan larut malam mencari makanan cepat saji, aksi konyol menghindari polisi dengan kereta belanja, hingga pengalaman canggung mencicipi cinta pertama—semuanya diiringi lagu-lagu favorit yang menjadi soundtrack masa muda mereka.

Secara garis besar, Mixtape memang terlihat seperti kisah coming-of-age interaktif tentang sekelompok remaja pemberontak. Namun kekuatannya justru terletak pada bagaimana kenangan mereka diwujudkan menjadi mini-game dan selingan yang bisa dimainkan, masing-masing merepresentasikan emosi yang mereka rasakan di masa itu. Konsep inilah yang membuat perjalanan nostalgia tersebut terasa begitu kuat dan menyentuh.

Setiap potongan memori ditampilkan secara dramatis, seolah-olah dibesar-besarkan oleh waktu dan perasaan. Musik dari band-band ikonik seperti Devo, Joy Division, dan Siouxsie and the Banshees menjadi pengiring yang mempertegas suasana tersebut. Hasilnya adalah rangkaian momen yang emosional dan puitis, menggambarkan bagaimana kenangan masa muda sering terasa jauh lebih megah dan dramatis dibandingkan kenyataan sebenarnya.

Salah satu bagian yang paling menarik adalah adegan ketika Rockford dan kawan-kawannya berkendara keliling kota untuk membeli makanan cepat saji. Segmen ini dibuat dalam bentuk interaktif sederhana—tombol-tombol tertentu digunakan untuk menggerakkan kepala mengikuti irama atau melakukan gestur penuh semangat. 

Tidak ada instruksi detail yang memaksa pemain, sehingga pengalaman bermain terasa spontan dan mengalir mengikuti musik. Adegan tersebut bukan hanya menghadirkan humor lewat tingkah konyol para karakter, tetapi juga menjadi penghormatan halus pada gaya sinematik klasik seperti yang terlihat dalam Pulp Fiction, lengkap dengan nuansa set film yang sengaja dibuat teatrikal.

Segmen lainnya berfokus pada momen di dalam bilik foto antara Rockford dan Slater. Di sini, pemain diajak menentukan pose terbaik—atau paling konyol—untuk diabadikan. Sederhana, tetapi efektif dalam menangkap keintiman dan kecanggungan khas remaja yang sedang berada di ambang kedewasaan.

Nostalgia Era MTV dan Potensi Adaptasi Film

Nostalgia Era MTV dan Potensi Adaptasi Film

Terlihat jelas bahwa Mixtape berupaya menangkap semangat sebuah era tertentu, terutama budaya pop Amerika tahun 90-an yang begitu lekat dengan generasi MTV. Kecintaan tim pengembang terhadap film dan tayangan televisi pada masa itu terasa kuat dalam presentasi visualnya. Game ini mengadopsi gaya penyuntingan “mixed media” yang memadukan potongan klip ala acara televisi dan film untuk memperkuat momen emosional maupun komedi. Bahkan Rockford sesekali berbicara langsung kepada pemain dengan gaya narasi yang mengingatkan pada Ferris Bueller's Day Off, mempertegas nuansa meta yang playful.

Dengan tren adaptasi game ke layar lebar yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, sutradara Johnny Galvatron juga mengakui bahwa sudah ada pembicaraan awal mengenai kemungkinan versi filmnya. Mengingat Mixtape diterbitkan oleh Annapurna Interactive—yang berada di bawah payung perusahaan film Annapurna Pictures—peluang tersebut memang terbuka lebar.

Galvatron menyebut bahwa diskusi-diskusi tersebut terasa menyenangkan dan penuh ide segar. Meski begitu, ia mengisyaratkan bahwa jika adaptasi benar-benar terwujud, ia kemungkinan akan mengambil peran yang lebih pasif dalam proses kreatifnya.

Pada akhirnya, Mixtape bukan sekadar game tentang nongkrong atau nostalgia masa remaja. Ia adalah refleksi tentang persahabatan, pilihan hidup, dan bagaimana kenangan—seindah atau seburuk apa pun—membentuk siapa diri kita di masa depan. Jika berhasil mengeksekusi visinya dengan matang, Mixtape berpotensi menjadi salah satu pengalaman naratif paling personal dan berkesan dalam beberapa tahun terakhir.

Also Read
Latest News
  • Bukan Sekadar Main Bareng, Mixtape Ingin Jadi Ruang Nongkrong Virtual Paling Seru
  • Bukan Sekadar Main Bareng, Mixtape Ingin Jadi Ruang Nongkrong Virtual Paling Seru
  • Bukan Sekadar Main Bareng, Mixtape Ingin Jadi Ruang Nongkrong Virtual Paling Seru
  • Bukan Sekadar Main Bareng, Mixtape Ingin Jadi Ruang Nongkrong Virtual Paling Seru
  • Bukan Sekadar Main Bareng, Mixtape Ingin Jadi Ruang Nongkrong Virtual Paling Seru
  • Bukan Sekadar Main Bareng, Mixtape Ingin Jadi Ruang Nongkrong Virtual Paling Seru
Post a Comment