Iklan - SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISING

Keputusan Kontroversial di Internal Ubisoft, CEO Bantah Tuduhan Nepotisme

Keputusan Kontroversial di Internal Ubisoft, CEO Bantah Tuduhan Nepotisme

Perusahaan game asal Prancis, Ubisoft, kembali menjadi sorotan setelah menunjuk Charlie Guillemot—putra CEO Yves Guillemot—sebagai salah satu pemimpin divisi terbaru mereka, Vantage Studios. Studio ini diketahui mendapat dukungan investasi dari raksasa teknologi China, Tencent.

Penunjukan tersebut memicu perbincangan di kalangan publik dan industri, terutama terkait dugaan praktik nepotisme. Sebelumnya, Charlie telah lebih dulu memberikan klarifikasi atas tudingan tersebut. Kini, sang ayah sekaligus CEO Ubisoft, Yves Guillemot, ikut angkat bicara.

Dalam wawancaranya bersama Variety, Yves menegaskan bahwa Ubisoft sejak awal berdiri memang memiliki akar sebagai perusahaan keluarga. Menurutnya, nilai tersebut masih menjadi fondasi penting dalam arah dan strategi perusahaan hingga saat ini.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan berbasis kekeluargaan membantu Ubisoft membangun waralaba, tim, dan strategi jangka panjang yang mampu bertahan selama puluhan tahun. Bagi Yves, filosofi tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari visi keberlanjutan perusahaan.

Terkait kepemimpinan Vantage Studios, Yves menyebut Charlie Guillemot dan co-CEO lainnya, Christopher Derennes, sebagai sosok yang tepat untuk memimpin divisi baru tersebut. Ia menilai keduanya memiliki kombinasi kemampuan dan pengalaman yang saling melengkapi.

Menurutnya, keputusan penunjukan itu didasarkan pada kompetensi, rekam jejak, serta kesesuaian mereka terhadap posisi yang diemban—bukan semata hubungan keluarga.

Meski begitu, perdebatan publik mengenai keputusan ini masih terus berkembang, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap tata kelola perusahaan di industri game global.

Beberapa bulan sebelum pengumuman resmi ini, Charlie Guillemot sudah lebih dulu menanggapi sorotan publik. Dalam wawancaranya bersama Variety, ia mengaku memahami sepenuhnya mengapa sebagian orang mempertanyakan penunjukannya.

Keputusan Kontroversial di Internal Ubisoft, CEO Bantah Tuduhan Nepotisme

Charlie tidak menampik statusnya sebagai putra CEO. Namun ia menegaskan bahwa posisinya bukan semata soal hubungan keluarga, melainkan kebutuhan strategis perusahaan saat ini. Menurutnya, keputusan tersebut didasarkan pada arah yang ingin ditempuh Ubisoft dalam beberapa tahun ke depan.

Sebagai co-CEO Vantage Studios, Charlie akan memegang kendali atas visi kreatif, arah pengembangan konten, hingga strategi pemasaran untuk tiga waralaba utama Ubisoft: Assassin's Creed, Tom Clancy's Rainbow Six, dan Far Cry.

Sementara itu, Christopher Derennes akan fokus pada aspek produksi, kolaborasi pengembangan lintas studio, serta penguatan teknologi.

Dari sisi rekam jejak, Charlie memulai kariernya di industri game pada 2014 lewat Owlient, studio pengembang game simulasi kuda yang kemudian diakuisisi Ubisoft. Ia sempat meninggalkan perusahaan pada 2021 sebelum kembali pada 2025, yang akhirnya membawanya ke posisi pucuk pimpinan di Vantage.

Adapun Derennes bukan sosok baru di tubuh Ubisoft. Ia merupakan salah satu pendiri Ubisoft Montreal pada 1997 dan terakhir menjabat sebagai Managing Director untuk operasional Ubisoft di kawasan Amerika Utara.

Ke depan, Charlie memprediksi teknologi seperti AI generatif dan cloud computing akan membawa perubahan besar dalam proses pengembangan game maupun pengalaman bermain. Ia bahkan menyebut potensi “revolusi” dalam cara industri bekerja.

Menurutnya, perubahan tersebut bisa berdampak pada format konten yang lebih singkat serta pendekatan baru untuk menjangkau generasi pemain yang memiliki pola konsumsi berbeda. Ia juga menyadari bahwa industri kemungkinan akan menghadapi disrupsi teknologi lain yang saat ini belum sepenuhnya bisa diprediksi.

Pernyataan ini tentu memicu diskusi, mengingat AI generatif masih menjadi topik sensitif di kalangan pengembang game. Sejumlah pelaku industri mengkhawatirkan dampaknya terhadap proses kreatif hingga potensi pengurangan tenaga kerja. 

Bahkan dalam survei terbaru yang dilakukan pada ajang Game Developers Conference (GDC), semakin banyak developer yang menilai AI generatif justru memberikan dampak negatif bagi industri game.

Meski demikian, bukan hal mengejutkan jika Ubisoft ingin memperluas penggunaan teknologi tersebut. Perusahaan ini memang dikenal cukup agresif dalam mengeksplorasi AI generatif dalam beberapa tahun terakhir.

Also Read
Latest News
  • Keputusan Kontroversial di Internal Ubisoft, CEO Bantah Tuduhan Nepotisme
  • Keputusan Kontroversial di Internal Ubisoft, CEO Bantah Tuduhan Nepotisme
  • Keputusan Kontroversial di Internal Ubisoft, CEO Bantah Tuduhan Nepotisme
  • Keputusan Kontroversial di Internal Ubisoft, CEO Bantah Tuduhan Nepotisme
  • Keputusan Kontroversial di Internal Ubisoft, CEO Bantah Tuduhan Nepotisme
  • Keputusan Kontroversial di Internal Ubisoft, CEO Bantah Tuduhan Nepotisme
Post a Comment